RSS

Tujuan Pendidikan Anak Tunadaksa

 TUJUAN PENDIDIKAN ANAK TUNADAKSA

       Tujuan pendidikan anak tuna daksa mengacu pada peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1991 agar peserta didik mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan. Connor (1975) dalam musyafak Asyari (1995) mengemukakan bahwa dalam pendidikan anak tuna daksa perlu dikembangkan 7 aspek yang diadaptasikan sebagai berikut :

1. Pengembangan Intelektual dan Akademik
        Pengembangan aspek ini dapat dilaksanakan secara formal di sekolah melalui kegiatan belajar. Di sekolah khusus anak tuna daksa (SLB-D) tersedia seperangkat kurikulum dengan semua pedoman pelaksanaannya, namun hal yang lebih penting adalah pemberian kesempatan dan perhatian khusus pada anak tuna daksa untuk mengoptimalkan perkembangan intelektual dan akademiknya.


2. Membantu Perkembangan Fisik
        Karena anak tuna daksa mengalami kecacatan fisik maka dalam proses pendidikan guru harus turut bertanggung jawab terhadap pengembangan fisiknya dengan cara bekerja sama dengan staf medis. Hambatan utama dalam belajar adalah adanya gangguan motorik. Oleh karena itu, guru harus dapat mengatasi gangguan tersebut sehingga anak memperoleh kemudahan dalam mengikuti pendidikan. Guru harus membantu memelihara kesehatan fisik anak, mengoreksi gerakan yang salah dan mengembangkan ke arah gerakan yang normal.


3. Meningkatkan Perkembangan Emosi dan Penerimaan Diri Anak
        Dalam proses pendidikan, para guru bekerja sama dengan psikolog harus menanamkan konsep diri yang positif terhadap kecacatan agar dapat menerima dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif sehingga dapat mendorong terciptanya interaksi yang harmonis.


4. Mematangkan Aspek Sosial
        Aspek sosial yang meliputi kegiatan kelompok dan kebersamaannya perlu dikembangkan dengan pemberian peran kepada anak tuna daksa agar turut serta bertanggung jawab atas tugas yang diberikan serta dapat bekerja sama dengan kelompoknya.


5. Mematangkan Moral dan Spritual
        Dalam proses pendidikan perlu diajarkan kepada anak tentang nilai-nilai, norma kehidupan dan keagamaan untuk membantu mematangkan moral dan spritualnya.


6. Meningkatkan Ekspresi Diri
       
Ekspresi diri anak tuna daksa perlu ditingkatkan melalui kegiatan kesenian, keterampilan, atau kerajinan.


7. Mempersiapkan Masa Depan Anak
        Dalam proses pendidikan, guru dan personil lainnya bertugas untuk menyiapkan masa depan anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membiasakan anak bekerja sesuai dengan kemampuannya, membekali mereka dengan latihan keterampilan yang menghasilkan sesuatu yang dapat dijadikan bekal hidupnya.
Ketujuh sasaran pendidikan tersebut di atas sebenarnya bersifat dual purpose {ganda), yaitu berkaitan dengan pemulihan fungsi fisik dan pengembangan dalam pendidikannya. Tujuan utamanya adalah terbentuknya kemandirian dan keutuhan pribadi anak tuna daksa

1 komentar:

Unknown mengatakan...

masih banyak penyandang tunadaksa yang tidak mengenyam dunia pendidikan , mulai dari faktor ekonomi dan hal semacamnya . bagaimana langkah anda untuk meminimalisir hal tersebut ? bagaimana seharusnya kita semua memperlakukan mereka ?

Posting Komentar