RSS


       Model layanan pendidikan yang sesuai dengan jenis, derajat kelainan dan jumlah didik diharapkan akan memperlancar proses pendidikan. Anak tuna daksa dapat mengikuti pendidikan pada tempat-tempat berikut :

1. Sekolah Khusus Berasrama (Full-Time Residentila School)
       Model ini diperuntukkan bagi anak tuna daksa yang derajat kelainannya berat dan sangat berat.

2. Sekolah Khusus tanpa Asrama (Special Day School)
       Model ini dimaksudkan bagi anak tuna daksa yang memiliki kemampuan pulang pergi ke sekolah atau tempat tinggal mereka yang tidak jauh dari sekolah.

3. Kelas Khusus Penuh (Full-Time Special Class)
       Anak tuna daksa yang memiliki tingkat kecacatan ringan dan kecerdasan homogeny dilayani dalam kelas khusus secara penuh.

4. Kelas Reguler dan Khusus (Part-Time        Reguler Class and Part-Time Special Class)
       Model ini digunakan apabila menyatukan anak tuna daksa dengan anak normal, pada mata pelajaran tertentu. Mereka belajar dengan anak normal dan apabila anak tuna daksa mengalami kesulitan mereka belajar di kelas khusus.

5. Kelas regular Dibantu oleh Guru Khusus (Reguler Class with Supportive Instructional Service)
       Anak tuna daksa bersekolah bersama-sama anak normal di sekolah umum dengan bantuan guru khusus apabila anak mengalami kesulitan.

6. Kelas Biasa dengan Layanan Konsultasi untuk Guru Umum (Reguler Class Placement with Consulting Service for Reguler Teacher)
       Tanggung jawab pembelajaran model ini sepenuhnya dipegang oleh guru umum. Anak tuna daksa belajar bersama dengan anak normal di sekolah umum, dan untuk membantu kelancaran pembelajaran ada guru kunjung yang berfungsi sebagai konsultan guru reguler.

7. Kelas Biasa (Reguler Class)
       Model ini diperuntukkan bagi anak tuna daksa yang memilki kecerdasan normal, memiliki dan kemampuan yang dapat belajar bersama-sama dengan anak normal.


Tujuan Pendidikan Anak Tunadaksa

 TUJUAN PENDIDIKAN ANAK TUNADAKSA

       Tujuan pendidikan anak tuna daksa mengacu pada peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1991 agar peserta didik mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan. Connor (1975) dalam musyafak Asyari (1995) mengemukakan bahwa dalam pendidikan anak tuna daksa perlu dikembangkan 7 aspek yang diadaptasikan sebagai berikut :

1. Pengembangan Intelektual dan Akademik
        Pengembangan aspek ini dapat dilaksanakan secara formal di sekolah melalui kegiatan belajar. Di sekolah khusus anak tuna daksa (SLB-D) tersedia seperangkat kurikulum dengan semua pedoman pelaksanaannya, namun hal yang lebih penting adalah pemberian kesempatan dan perhatian khusus pada anak tuna daksa untuk mengoptimalkan perkembangan intelektual dan akademiknya.


2. Membantu Perkembangan Fisik
        Karena anak tuna daksa mengalami kecacatan fisik maka dalam proses pendidikan guru harus turut bertanggung jawab terhadap pengembangan fisiknya dengan cara bekerja sama dengan staf medis. Hambatan utama dalam belajar adalah adanya gangguan motorik. Oleh karena itu, guru harus dapat mengatasi gangguan tersebut sehingga anak memperoleh kemudahan dalam mengikuti pendidikan. Guru harus membantu memelihara kesehatan fisik anak, mengoreksi gerakan yang salah dan mengembangkan ke arah gerakan yang normal.


3. Meningkatkan Perkembangan Emosi dan Penerimaan Diri Anak
        Dalam proses pendidikan, para guru bekerja sama dengan psikolog harus menanamkan konsep diri yang positif terhadap kecacatan agar dapat menerima dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif sehingga dapat mendorong terciptanya interaksi yang harmonis.


4. Mematangkan Aspek Sosial
        Aspek sosial yang meliputi kegiatan kelompok dan kebersamaannya perlu dikembangkan dengan pemberian peran kepada anak tuna daksa agar turut serta bertanggung jawab atas tugas yang diberikan serta dapat bekerja sama dengan kelompoknya.


5. Mematangkan Moral dan Spritual
        Dalam proses pendidikan perlu diajarkan kepada anak tentang nilai-nilai, norma kehidupan dan keagamaan untuk membantu mematangkan moral dan spritualnya.


6. Meningkatkan Ekspresi Diri
       
Ekspresi diri anak tuna daksa perlu ditingkatkan melalui kegiatan kesenian, keterampilan, atau kerajinan.


7. Mempersiapkan Masa Depan Anak
        Dalam proses pendidikan, guru dan personil lainnya bertugas untuk menyiapkan masa depan anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membiasakan anak bekerja sesuai dengan kemampuannya, membekali mereka dengan latihan keterampilan yang menghasilkan sesuatu yang dapat dijadikan bekal hidupnya.
Ketujuh sasaran pendidikan tersebut di atas sebenarnya bersifat dual purpose {ganda), yaitu berkaitan dengan pemulihan fungsi fisik dan pengembangan dalam pendidikannya. Tujuan utamanya adalah terbentuknya kemandirian dan keutuhan pribadi anak tuna daksa

perkembangan emosi ABK Tunadaksa




Menurut penelitian, ketunadaksaan secara khusus tidak menimbulkan gangguan pada kehidupan emosi anak Tunadaksa. Anak yang tunadaksa sejak kecil, mengalami perkembangan emosi sebagai anak tunadaksa secara bertahap. Sedangkan anak yang mengalami tunadaksa setelah besar, mengalaminya sebagai suatu hal yang mendadak, disamping itu anak yang bersangkutan pernah mengalami sebagai orang normal, sehingga keadaan tunadaksa dianggap sebagai suatu kemunduran dan sulit untuk diterima oleh anak yang bersangkutan tersebut. Dukungan orang tua dan orang – orang disekitarnya merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap emosinya.
Orang tua dari anak tunadaksa biasanya sering memperlakukan anak dengan sikap melindungi (over protection), misal dengan memenuhi segala keinginannya, dan melayaninya secara berlebihan. Ada juga orang tua yang bersikap menolak kehadiran anak – anak mereka. Perlakuan seperti itu sering kali menyebabkan anak – anak tunadaksa merasakan ketergantungan sehingga merasa takut serta cemas dalam menghadapi lingkungan yang tidak dikenalnya. 

      Telah banyak penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat intelegensi anak tunadaksa. Hasilnya pun telah banyak dijadikan bahan diskusi yang menarik. beberapa hal sering dipersoalkan. persoalan alat test yang cocok untuk anak tunadaksa, rehabilitasi dan validitas suatu test yang digunakan untuk mengukur intelegensi anak tunadaksa. 
      Pada sebagian besar dari anak tunadaksa,  kelainan yang mereka alami tidak langsung menimbulkan kesulitan belajar dan perkembangan intelegensi. Lain halnya dengan anak celebral palsy, kelainan yang mereka derita secara langsung menimbulkan kesulitan belajar dan perkembangan intelegensi. Mereka lebih banyak mengalami kesulitan baik dalam hal komunikasi, persepsi, maupun kontrol gerak. Beberapa penyelidikan menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka mengalami keterbelakangan mental.

Perkembangan Fisik Anak Tunadaksa

Perkembangan Fisik Anak Tunadaksa

       Secara umum perkembangan manusia dapat dibedakan dalam aspek pikologik dan fisik. Aspek fisik merupakan potensi yang berkembang dan harus dikembangkan oleh individu. Pada anak - anak tunadaksa potensi tersebut tidak utuh karena ada bagian tubuh yang tidak sempurna. Dalam usahanya untuk mengaktualisasikan dirinya secara utuh maka ketidak sempurnaan yang dialami anak tunadaksa biasanya dikompensasikan oleh bagian tubuh yang lain. Misal ada kerusakan pada tangan kanan, maka tangan kirinya akan lebih berkembang untuk mengkompensasikan kekurangan yang dialami tangan kanan. 

 Namun disamping itu kerusakan pada salah satu bagian tubuh tidak jarang juga menimbulkan kerusakan bagian tubuh lain. Misalnya, kerusakan pada salah satu sendi akan menyebabkan kerusakan pada tulang pinggul, yang dimana tulang pinggul tersebut bisa saja menjadi miring letaknya. Secara umum perkembangan fisik anak tunadaksa bisa dikatakan hampir sama dengan anak normal pada umumnya, kecuali bagian - bagian tubuh yang mengalami kerusakan atu bagian - bagian tubuh lain yang terpengaruh oleh kerusakan tersebut. 


FUNGSI KOGITIF ANAK TUNADAKSA

ada 4 aspek yang turut mewarnai ketunadaksaan seseorang menurut Gunarsa (1985), yakni :

1. Kematangan 
        Kematangan merupakan perkembangan susunan syaraf, misalnya kemampuan mendengar disebabkan oleh kematangan yang sudah dicapai oleh susunan syaraf tersebut.

2. Pengalaman
        Hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungan dan dunianya.

3. Transmisi Sosial
        Pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.

4. Ekuilibrasi
        Adanya kemampuan yang mengatur dalam diri anak, agar ia selalu mampu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.


ketunadaksaan dan dampaknya

pengertian, klasifikasi, dan penyebab ABK Tunadaksa

A.   Pengertian
       
     Tunadaksa adalah anak atau orang dewasa yang memiliki kelainan tubuh baik kondisi fisik maupun sistem persyarafan otak yang mempengaruhi organ motorik (otot)maupun kondisi kesehatan dan menghambat proses sosialisasi serta komunikasi individu dengan lingkungannya. 

"Tunadaksa berarti suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal", (Frances G. Keoning,)

B.   Klasifikasi
    
     1. Kelainan Tubuh 
kelainan tubuh ini meliputi kondisi seseoranng yang kekurangan kelengkapan anggota tubuh yang dikarenakan cacat sejak lahir dan amputasi. 
     
     2. kelainan syaraf dan motorik
kondisi kelainan motorik dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
       
       2.a. kelainan otot 
    kelainan otot disebabkan  karena adanya serangan polio yang menyebabkan muscular distrophy dan kelainan konginental sejak lahir.
       
       2.b. kelainan syaraf otot
kelainan syaraf otot disebabkan karena adanya kelayuan pada otak yang beakibat pada anggota geraknya yang terganggu.

     
     3. Kelainan Kesehatan 

     kelainan kesehatan ini termasuk kelompok kelainan kesehatan yg akut atau kronis. sehingga setiap anak harus rutin mendapatkan perawatan dirumah sakit. contoh pada kelainan kesehatan adalah anak-anak yang menderita leukimia, terkena virus HIV, atau kondisi abnormal pada organ vital seperti kelainan jantung, paru-paru, hati, ginjal, dsb. 


Ketunadaksaan dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

1) Sebab-sebab yang timbul sebelum kelahiran:
    - Faktor-faktor keturunan
    - Trauma dan infeksi pada waktu kehamilan 
    - Usia ibu yang sudah lanjut pada waktu melahirkan anak.
    - Pendarahan pada waktu kehamilan.
    - Keguguran yang dialami ibu.

2) Sebab-sebab yang timbul pada waktu kelahiran:
    - Penggunaan alat-alat pembantu kelahiran (seperti tang, tabung,vacuum, dan lain- lain) yang tidak lancar.
    - Penggunaan obat bius pada waktu kelahiran.

3) Sebab-sebab sesudah kelahiran:
    - Infeksi
    - Trauma
    - Tumor