Menurut
penelitian, ketunadaksaan secara khusus tidak menimbulkan gangguan pada
kehidupan emosi anak Tunadaksa. Anak yang tunadaksa sejak kecil, mengalami
perkembangan emosi sebagai anak tunadaksa secara bertahap. Sedangkan anak yang
mengalami tunadaksa setelah besar, mengalaminya sebagai suatu hal yang
mendadak, disamping itu anak yang bersangkutan pernah mengalami sebagai orang
normal, sehingga keadaan tunadaksa dianggap sebagai suatu kemunduran dan sulit
untuk diterima oleh anak yang bersangkutan tersebut. Dukungan orang tua dan
orang – orang disekitarnya merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap emosinya.
Orang
tua dari anak tunadaksa biasanya sering memperlakukan anak dengan sikap
melindungi (over protection), misal dengan memenuhi segala keinginannya, dan
melayaninya secara berlebihan. Ada juga orang tua yang bersikap menolak
kehadiran anak – anak mereka. Perlakuan seperti itu sering kali menyebabkan
anak – anak tunadaksa merasakan ketergantungan sehingga merasa takut serta
cemas dalam menghadapi lingkungan yang tidak dikenalnya.



0 komentar:
Posting Komentar